Marriage Is Scary Dalam Perspektif Hukum Keluarga Dan Hukum Positif
DOI:
https://doi.org/10.35719/sakinah.v4i1.92Keywords:
Marriage is scary, family law, positive law.Abstract
This study aims to: (1) analyze the perspectives of Islamic family law and Indonesian positive law regarding the “marriage is scary” phenomenon, which refers to fear or hesitation toward marriage due to economic, social, social media influences, and personal or environmental experiences; and (2) examine normative solutions to address this phenomenon in the future. This research employs a normative legal method with statutory, historical, conceptual, and case approaches. The data were analyzed qualitatively through normative analysis based on library research, including the examination of legislation, Islamic family law literature, legal doctrines, and relevant legal theories. From the perspective of Islamic family law, marriage is viewed as a means to achieve tranquility (sakinah), love (mawaddah), and compassion (rahmah), grounded in faith, responsibility, and noble character. Islam encourages—and in certain circumstances obliges—marriage for individuals who are physically and mentally prepared and fear falling into sinful conduct. Meanwhile, Indonesian positive law is considered not yet fully responsive to the “marriage is scary” phenomenon, as there remain gender role imbalances and multiple interpretations within Law Number 1 of 1974 on Marriage. Normative solutions include: (1) at the dharuriyyah (primary necessity) level strengthening premarital education, economic readiness, communication skills, and information literacy; (2) at the hajiyyah (secondary necessity) level enhancing social support and scholarly engagement; and (3) at the tahsiniyyah (tertiary necessity) level cultivating gratitude, forgiveness, and personal self-improvement.
References
Ali, Muhammad Nabih, dan M. Marovida Aziz. “Membangun Komunikasi Keluarga pada Pasangan Nikah Muda sebagai Benteng Ketahanan Keluarga.” Jurnal Syariah dan Hukum 4, no. 2 (2022): 178–79.
Andriati, Syarifah Lisa, dan Tri Murti Lubis. “Penyuluhan Hukum Poligami dan Nikah Siri Menurut Undang-Undang Perkawinan.” Jurnal Abdimas Talenta 2, no. 2 (2017): 121.
Asmawi, Nur Ilma, dan Muammar Muhammad Bakry. “Kebebasan Perempuan dalam Memilih Calon Suami: Studi Perbandingan antara Madzhab Syafi’i dan Hanafi.” Jurnal Perbandingan Madzhab 2, no. 2 (2020).
Basri, Achmad Hasan. “Perceraian Akibat Beralih Agama (Murtad) serta Dampak terhadap Hak Asuh Anak Menurut Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan dan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam.” Panitera Journal of Law and Islamic Law 1, no. 1 (2022): 24–43.
Febriani, Anisa Rizki. “Surat Ar-Rum Ayat 21 Berisi tentang Apa? Ini Bacaan Lengkap dan Tafsirnya.” Detik.com, 12 Desember 2024.
Fauziah, Sofi, Ahmad Zainuddin, Mukhid Masruri, dan Miftara Ainul Mufid. “Solutions to the Phenomenon of ‘Marriage is Scary’ from the Perspective of the Qur’an.” Jurnal Ilmu Quran dan Tafsir 10, no. 1 (2025): 247–48.
Hakim, M. Saifudin. “Hadist: Perintah kepada Para Pemuda untuk Menikah.” Muslim.or.id, 25 Mei 2024.
Hamdan, Sulfinadia, dkk. “The Phenomenon Marriage is Scary: Causal Factors and Efforts Faced by Muslim Communities in Indonesia.” Al Istimbath: Jurnal Hukum Islam 10, no. 1 (2025): 355–77.
Helim, Abdul. Maqashid al-Shari’ah versus Usul al-Fiqh (Konsep dan Posisinya dalam Metodologi Hukum Islam). Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2019.
Hotimah, Husnul. “The ‘Marriage Is Scary’ Phenomenon among Gen Z: An Islamic Legal Perspective on the Decline in Marriage Interest.” Maslahah: Jurnal Hukum Islam dan Perbankan Syariah 16, no. 1 (2025): 17–32.
Humairah, Asysyfa Putri, dan Shanty Komalasari. “Dampak Depresi pada Generasi Z akibat Broken Home.” Jurnal Penelitian Psikologi 11, no. 2 (2024).
Irhamni, Busriyanti, dan Muhammad Faisol. “Problematika Perkawinan Dini (Studi di Kecamatan Kencong Kabupaten Jember).” Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan 18, no. 3 (2024).
Jatnika, Arahmat. “Tren Marriage is Scary dan Keteladanan Rasulullah dalam Pernikahan.” DD Jabar, 22 Agustus 2024.
Karimah. “Literasi Pendidikan PraNikah di Tengah Kecenderungan Marriage is Scary: Kajian Netizen TikTok.” Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi 2, no. 2 (2025).
Kamila, Nikmatul. “Pemberian Kewenangan Hak Asuh Anak kepada Ayah Perspektif Hukum Positif dan Hukum Islam.” Panitera Journal of Law and Islamic Law 1, no. 1 (2023): 74–107.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. “Ringkasan Data Kekerasan.” Diakses 1 Januari 2025.
Kompilasi Hukum Islam. Jakarta: Tim Permata Press, 2003.
Malisi, Ali Sibra. “Pernikahan dalam Islam.” Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum 1, no. 2 (2022): 22–28.
Mianoki, Adika. “Konsep Keadilan dalam Syariat Poligami Menurut Al-Qur’an.” Muslim.or.id, 21 September 2025.
Miranti. “Mengupas Tren Marriage is Scary yang Viral, Ketakutan Generasi Muda pada Pernikahan.” Liputan6.com, 21 Agustus 2024.
Mubarok, Nafi’. “Sejarah Hukum Perkawinan Islam di Indonesia.” The Indonesian Journal of Islamic Family Law 2, no. 2 (2012).
Najmudddin, Alfan Haidar, Nur Khamimah, dan Naifa Salma Ufaira. “Perceraian di Era Digital: Pengaruh Media Sosial dan Teknologi.” Jurnal Hukum dan Kewarganegaraan 1, no. 4 (2023).
Nasution, Misri Kholidah. “Konsep Penampilan Diri dalam Menjaga Keutuhan Rumah Tangga Perspektif Hukum Islam.” Jurnal Dunia Ilmu Hukum dan Politik 2, no. 1 (2024): 250.
Putri, Wida Widiyani. “Dampak Media Sosial terhadap Pandangan Generasi Z terhadap Pernikahan: Fenomena Marriage is Scary dan Ketakutan akan Komitmen.” Buletin K-PIN, 1 Januari 2025.
Supratiwi, Fitri. “Media Sosial, Tantangan Pernikahan Masa Kini.” ANTARA News, 7 Mei 2018.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual.
Validnews. “Makna dan Fungsi Pernikahan di Masyarakat.” 14 Maret 2024.


